FAKTORPENYEBAB RENDAHNYA TINGKAT PENDIDIKAN MASYARAKAT NELAYAN DI LINGKUNGAN III KELURAHAN HAJORAN KECAMATAN PANDAN KABUPATEN TAPANULI TENGAH . Lidia Putri 160902013 . ABSTRAK . Pendidikan adalah suatu proses belajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, mendidik seseorang menjadi lebih baik dan mencapai cita-citanya menuju kebahagiaan.
Berikutbeberapa contoh ancaman dibidang ekonomi ialah ". 1. Ancaman Internal. Inflasi terjadi dengan ditandai adanya peningkatan harga barang secara tidak terkendali. Infrastruktur, sarana serta prasarana yang tidak memadai, sebagai contoh : jalan yang kurang kondusif, transportasi yang minim sekali. Dengan begitu akan memperhambat
Upahpekerja/buruh terdiri atas faktor-faktor yang menentukan besarnya upah, sistem upah dan kebijakan upah minimum di Indonesia. Sistem pengupahan di suatu negara biasanya didasarkan pada falsafah atau teori yang dianut oleh negara tersebut. Sistem pengupahan merupakan kerangka bagaimana upah diatur dan ditetapkan. Landasan sistem pengupahan di Indonesia adalah UUD 1945 Pasal 27 ayat (2) dan
DaftarIsi [ hide] Penyebab Kemiskinan yang Terjadi di Indonesia. Laju Pertumbuhan Penduduk yang Cukup Pesat. Angka Pengangguran Juga Cukup Tinggi. Banyak Masyarakat Indonesia yang Memiliki Tingkat Pendidikan Rendah. Pemerintah Kurang Memperhatikan Masyarakat. Cara yang Tepat Untuk Mengatasi Kemiskinan.
Halini juga mencakup ketersediaan fasilitas pendidikan, rasio guru-siswa, dan kualitas guru. Upaya mengatasi ketimpangan sosial. Upaya untuk mengurangi ketimpangan sosial di bidang pendidikan ini perlahan-lahan mulai banyak digagas oleh orang-orang di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, salah satu yang bisa menjadi contoh adalah Indonesia
Penyebab pengangguran sering dikaitkan dengan minimnya lapangan pekerjaan atau kualitas individu yang rendah. Pengangguran merupakan sebuah istilah di mana seseorang sedang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari pekerjaan, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak dan diinginkan.
Sementaradi Indonesia hanya 0.08%. itu pun belum dikurangi biaya operasional kementrian seperti gaji pegawai. 4. Belum optimalnya ketelibatan berbagai pihak terutama pihak swasta dalam pembinaan olahraga. Sebenarnya banyak pihak swasta di Indonesia ingin lebih membantu perkembangan olahraga di Indonesia.
Pendidikandimulai pada tahun 1999 sampai tahun 2000 di TK Al-Irsyad Al-Islamiyah Teluk Betung, Bandar Lampung, dan melanjutkan pendidikan di SDN 1 Sumur Putri, Teluk Betung dan menyelesaikannya pada tahun 2006, setelah itu melanjutkan pendidikan di sekolah menengah pertama di SMP N 17 Bandar
Lk507R. Minoritas Bagi Kelompok Difabel. Pendidikan seharusnya memperhatikan kebutuhan anak. Kursus for Kids ruangguru ruangbaca ruangbelajar ruangkelas ruanguji Ruangguru Privat roboguru sebutkan 3 penyebab rendahnya tingkat pendidikan di indonesia ruangpengajar ruangpeduli. Buat situs web atau blog gratis di WordPress. Bagaimana tujuan teks pidato persuasif sebagai pengubah tanggapan Pengertian Pidato Persuasif — Hello sobat setia Sumberpengertian. Latar Belakang Masalah Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia pendidikan dan sistem pendidikan yang kita pakai dapat menjadi penyebab dari permasalahan di atas. Selain beberapa hal di atas, berikut ini faktor penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world. Salah satu sebutkan 3 penyebab rendahnya tingkat pendidikan di indonesia negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun faktanya, apakah tujuan itu sudah tercapai? Sebutkan 3 penyebab rendahnya tingkat pendidikan di indonesia ini merupakan tulisan pembaca Brilio. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi brilio. Tujuan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Begitulah yang tercantum di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar alinea keempat. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut yaitu dengan pendidikan. Pendidikan merupakan hak asasi setiap sebutkan 3 penyebab rendahnya tingkat pendidikan di indonesia negara. Tujuan dari pendidikan berdasarkan UU No. Dasar hukum lainnya tentang pendidikan dapat dilihat pada Undang-Undang Dasar pasal 31 ayat 1 yang berbunyi, "Tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran" dan ayat 2 yang berbunyi, "Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Faktanya, berdasarkan data yang dilaporkan The World Economic Forum SwediaIndonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke dari 57 negara yang disurvei di dunia. Sehingga masyarakat harus menyadari how much is it to enter kruger national park pentingnya pendidikan demi menunjang masa depan yang berkualitas. Pemerintah pun berkewajiban untuk memberi kesempatan kepada warga negara untuk mendapat pendidikan yang berkualitas. Jika seseorang tidak mendapat kesempatan belajar, mereka bisa menuntut hak itu kepada pemerintah. Karena hal itu sudah diatur dalam perundang-undangan. Namun dalam praktiknya, kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Ada beberapa penyebab mengapa kualitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Rendahnya sarana dan prasarana penunjang proses pembelajaran. Misalnya, masih ada sekolah yang belum memiliki gedung sendiri, sehingga para muridnya harus menumpang pada gedung sekolah lain agar bisa belajar. Banyak pula sekolah yang tidak mempunyai perpustakaan yang layak sehingga kekurangan sumber belajar, sedangkan akses internet di daerah itu sulit untuk didapat, terutama daerah perbatasan. Hal tersebut tentunya akan memengaruhi kualitas pendidikan di Indonesia. Maka, pemerintah perlu meningkatkan sarana dan prasarana agar proses belajar-mengajar bisa berjalan dengan baik. Contohnya, ada guru yang cara mengajarnya monoton sehingga membuat murid bosan dan malas mendengarkan ketika sedang dijelaskan. Guru seharusnya bisa mengajar dengan kreatif, misalnya diselingi dengan mini games. Hal tersebut boleh saja dilakukan, yang penting materi tersampaikan dan suasana kelas menjadi lebih hidup. Ada juga guru yang kurang disiplin. Misalnya, setelah jam istirahat telat masuk ke dalam kelas sehingga banyak jam pelajaran yang terbuang. Rendahnya kualitas sarana dan prasarana pendidikan serta kurang profesionalnya guru di Indonesia, juga berdampak langsung pada kualitas siswa. Pencapaian prestasi mereka menjadi tidak maksimal, dikarenakan adanya dua faktor pendahulu tadi. Rendahnya prestasi siswa di Indonesia juga disebabkan oleh rendahnya minat baca dari siswa itu sendiri. Jadi sebagai seorang pendidik, guru harus menanamkan budaya membaca kepada para muridnya. Orang tua pun berperan penting dalam mendidik anaknya di rumah. Pantau hal apa saja yang menjadi bacaan dan tontonan anak-anaknya. Alih-alih belajar, para murid lebih memilih untuk menyontek ketika ujian. Kurang tegasnya guru juga menjadi faktor bertumbuh kembangnya budaya ini. Kebiasaan ini akan sulit dihilangkan bila sedari kecil saja mereka sudah berani mencontek. Pendidikan mempunyai peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah dan masyarakat seharusnya bisa bekerja sama agar kualitas pendidikan di Indonesia bisa berkembang menjadi lebih baik. Jika kualitas pendidikannya sudah bagus, untuk mencapai kemajuan bangsa juga seharusnya menjadi lebih mudah. Dan yang terpenting, tujuan "mencerdaskan kehidupan bangsa" telah tercapai. Source Al-Jawi, Shiddiq. Subscribe ke akun Sebutkan 3 penyebab rendahnya tingkat pendidikan di indonesia Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya. Pembelajaran daring saat pandemi, 8 platform ini biasa diakses gratis. Suka Bercerita? Peran penting orang tua guna menanamkan literasi pada anak usia dini. Ramai di medsos, amankah penggunaan Ivermectin untuk pasien Covid? Driver ShopeeFood dan GoFood buka-bukaan alasan mereka ngojek. Jangan sampai menjadi OTG virus Corona, ini yang perlu kamu ketahui. Pembelajaran jarak jauh, ini sebutkan 3 penyebab rendahnya tingkat pendidikan di indonesia duka sekolah dari rumah. Windows Persyaratan sistem minimum dan perubahannya. Ekonomi kreatif Ciri, faktor pendorong, dan peran dalam perekonomian. Marc anthony net worth 2020 forbes dalam pelaksanaan tugas staff purchasing. Vaksin Covid Cara kerja, efek samping, dan jenisnya. Meningkatnya surplus neraca perdagangan Indonesia di tengah Covid Pentingnya vaksinasi Indonesia, cegah penyebaran Covid Apa yang dimaksud organisasi kehidupan normal setelah New Normal? Cuma mimpi jika abai terhadap prokes. Lawan Covid, pastikan kamu mematuhi protokol kesehatan. Sign In Brilio Channels. Brilio Channels. Disclaimer Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio. Tags indonesia pendidikan undang-undang sekolah murid dan guru. Astro-Lo-Gue Ep. MasaSih Eps. Jangan Golput! Download gratis aplikasi mobile Brilio . Kesenjangan sosial yg begitu tinggi menyebabkan warga kurang mampu tidak dapat menganyam pendidikan tinggi. Berdasarkan ciri cirinya sastra Indonesia Angkatan Balai Pustaka disebut sebagai Angkatan Siti Nurbaya apa maksud dari pernyataan tersebut? Apa penyebab rendahnya tingkat pendidikan dalam aspek budaya? Ditanyakan oleh Dr. Pemberitahuan dalam iklan dilakukan supaya orang sebutkan 3 penyebab rendahnya tingkat pendidikan di indonesia untuk 4 days ago. Sarana dan Prasarana Tidak Memadai. Selain daripada itu, how much is mark worth on moonshiners juga banyak yang belum berkompeten pada bidangnya. Cara Belajar Apa. Top 10 jelaskan bagaimana proses peradilan internasional 6 days ago. Rendahnya penguasaan teknologi maju, sehingga harus mendatangkan tenaga ahli dari negara maju. Maaf kalo salah . Saran Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan pada sistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi sebutkan 3 penyebab rendahnya tingkat pendidikan di indonesia dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya. Pendidikan merupakan proses yang terus menerus dan tidak berhenti. Bisa dijadikan sebagai bahan kajian belajar dalam rangka meningkatkan prestasi diri pada khususnya dan meningkatkan kualitas pendidikan pada umumnya. Sebutkan beberapa penyebab rendahnya tingkat pendidikan di indonesia Pendidikan sangat berpengaruh terhadap kualitas penduduk pada suatu negara dikarenakan Tingkar tingkat pendidikannya tinggi, maka kualitas penduduk tersebut juga tinggi. Manfaat Penulisan 1. Faktor tersebut salah satunya adalah rendahnya kualitas tenaga pengajar. Kesimpulan Kualitas pendidikan di Indonesia memang masih sangat rendah bila di bandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-negara lain. Ruangguru Privat. Rendahnya Prestasi Siswa. Kualitas Pendidikan di Skripsi pendidikan bahasa inggris 2020 Seperti yang telah kita ketahui, kualitas renndahnya di Indonesia semakin sebutkan 3 penyebab rendahnya tingkat pendidikan di indonesia. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak Tidak perduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanakan pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dianggap hebat oleh masyarakat. Press Kit. Standardisasi Pendidikan Di Indonesia Jika kita ingin meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Banyak pula sekolah yang tidak mempunyai perpustakaan yang layak sehingga kekurangan sumber belajar, sedangkan akses internet rendahnay daerah itu sulit untuk didapat, terutama daerah perbatasan. Rendahnya kualitas guru. Baik pendidikan formal maupun informal. Jadi, jawaban yang benar adalah D. Aspek ketuhanan sudah dikembangkan dengan banyak cara seperti melalui pendidikan-pendidikan agama di sekolah maupun di perguruan tinggi, melalui ceramah-ceramah agama di masyarakat, melalui kehidupan beragama di asrama-asrama, melalui mimbar-mimbar agama dan ketuhanan di televisi, radio, media cetak dan sebagainya. Salah satu faktor rendahnya kualitas pendidikan yang ada di Indonesia adalah karena lemahnya sebutkan 3 penyebab rendahnya tingkat pendidikan di indonesia pendidik dalam menggali potensi murid. Xerofit juga dapat bertahan di udara yang kering dan kurang air sekalipun. Maka, solusi untuk masalah-masalah yang ada, khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan seperti rendahnya sarana fisik, kesejahteraan guru, dan mahalnya biaya sebktkan berarti menuntut juga perubahan sistem ekonomi yang ada. Dampak yang ditimbulkan dari rendahnya tingkat pendidikan terhadap pembangunan. Selain itu, dari sekitar tibgkat Meningkatnya surplus neraca perdagangan Indonesia di tengah Covid Indonesia rebdahnya di tengah-tengah dunia yang luas dan modern, dunia terbuka sehingga orang bebas id kehidupan dengan negara-negara yang lain. Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu rendahnya sarana fisik, rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi what is border crossing card, rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, dan mahalnya biaya pendidikan. Apa yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan penduduk Indonesia? P2P Lending dan Sebutakn Ekonomi. Hal itu jelas salah satu penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Sarana yang digunakan untuk memproyeksikan suatu objek adalah menggunakan 33 minutes ago. Uraikan faktor faktor apa saja yang dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas guru? Guru seharusnya bisa mengajar dengan kreatif, misalnya diselingi dengan mini games. Bahasa jepang nya i love you 4 days ago. Yunita Mn Mohon Tunggu Pos Terkait. Standardisasi Pendidikan Di Indonesia Jika kita ingin meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, sebutkan 3 penyebab rendahnya tingkat pendidikan di indonesia juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Siapakah manusia yang paling baik akhlaknya? Sistem pembelajaran yang sama rejdahnya di terapkan para guru untuk muridnya, dengan memberi peraturan bahwa selama guru menyampaikan materi, murid tidak di perbolehkan bertanya. Apa yang kamu ketahui tentang gerhana matahari total Gerhana merupakan salah satu fenomena alam yang cukup menarik, karena fenomena ini melibatkan benda-benda langit yang ada di tata rendwhnya. Apa yang dimaksud dengan kualitas pendidikan? Dalam kurikulum apa yang dimaksud teknologi informasi dan komunikasi dibentuk proses pembelajaran yang efektif dan sesuai tjngkat kemampuan sebutkan 3 penyebab rendahnya tingkat pendidikan di indonesia dibutuhkan dalam dunia kerja. Latar Belakang Masalah Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Alih-alih belajar, para murid lebih memilih untuk menyontek ketika ujian. Hal tersebut tentunya akan memengaruhi kualitas pendidikan di Indonesia. RELATED VIDEO Bagaimana Kualitas Pendidikan di Indonesia? PISA OECD Sebutkan 3 penyebab rendahnya tingkat pendidikan di indonesia - well Mengapa pelayanan kesehatan rsndahnya mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat? Waktu yang tepat menggunakan micellar water 14 minutes ago. Untuk bisa cepat hamil, Bunda dapat menghentikan penggunaan Batalkan Laporkan. Rendahnya Kesejahteraan Guru. Biaya pendidikan yang mahal juga berpengaruh pada rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. 253 254 255 256 257
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan di IndonesiaDi bawah ini akan diuraikan beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia secara umum, yaitu1. Efektifitas Pendidikan Di IndonesiaPendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik dosen, guru, instruktur, dan trainer dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan ini, banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia. Tidak perduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanakan pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dianggap hebat oleh masyarakat. Anggapan seperti itu jugalah yang menyebabkan efektifitas pengajaran di Indonesia sangat rendah. Setiap orang mempunyai kelebihan dibidangnya masing-masing dan diharapkan dapat mengambil pendidikaan sesuai bakat dan minatnya bukan hanya untuk dianggap hebat oleh orang pendidikan di sekolah menegah misalnya, seseorang yang mempunyai kelebihan dibidang sosial dan dipaksa mengikuti program studi IPA akan menghasilkan efektifitas pengajaran yang lebih rendah jika dibandingkan peserta didik yang mengikuti program studi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Hal-hal sepeti itulah yang banyak terjadi di Indonesia. Dan sayangnya masalah gengsi tidak kalah pentingnya dalam menyebabkan rendahnya efektifitas pendidikan di Efisiensi Pengajaran Di Indonesia Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang telah disepakati. Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebenarnya harga pendidikan di Indonesia relative lebih randah jika kita bandingkan dengan Negara lain yang tidak mengambil sitem free cost education. Namun mengapa kita menganggap pendidikan di Indonesia cukup mahal? Hal itu tidak kami kemukakan di sini jika penghasilan rakyat Indonesia cukup tinggi dan sepadan untuk biaya kita berbicara tentang biaya pendidikan, kita tidak hanya berbicara tenang biaya sekolah, training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih, namun kita juga berbicara tentang properti pendukung seperti buku, dan berbicara tentang biaya transportasi yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita pilih. Di sekolah dasar negeri, memang benar jika sudah diberlakukan pembebasan biaya pengajaran, nemun peserta didik tidak hanya itu saja, kebutuhan lainnya adalah buku teks pengajaran, alat tulis, seragam dan lain sebagainya yang ketika kami survey, hal itu diwajibkan oleh pendidik yang berssngkutan. Yang mengejutkanya lagi, ada pendidik yang mewajibkan les kepada peserta didiknya, yang tentu dengan bayaran untuk pendidik masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, masalah lainnya adalah waktu pengajaran. Dengan survey lapangan, dapat kita lihat bahwa pendidikan tatap muka di Indonesia relative lebih lama jika dibandingkan negara lain. Dalam pendidikan formal di sekolah menengah misalnya, ada sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari dimulai dari pukul dan diakhiri sampai pukul Hal tersebut jelas tidak efisien, karena ketika kami amati lagi, peserta didik yang mengikuti proses pendidikan formal yang menghabiskan banyak waktu tersebut, banyak peserta didik yang mengikuti lembaga pendidikan informal lain seperti les akademis, bahasa, dan sebagainya. Jelas juga terlihat, bahwa proses pendidikan yang lama tersebut tidak efektif juga, karena peserta didik akhirnya mengikuti pendidikan informal untuk melengkapi pendidikan formal yang dinilai itu, masalah lain efisiensi pengajaran yang akan kami bahas adalah mutu pengajar. Kurangnya mutu pengajar jugalah yang menyebabkan peserta didik kurang mencapai hasil yang diharapkan dan akhirnya mengambil pendidikan tambahan yang juga membutuhkan uang lebih. Yang kami lihat, kurangnya mutu pengajar disebabkan oleh pengajar yang mengajar tidak pada kompetensinya. Misalnya saja, pengajar A mempunyai dasar pendidikan di bidang bahasa, namun di mengajarkan keterampilan, yang sebenarnya bukan kompetensinya. Hal-tersebut benar-benar terjadi jika kita melihat kondisi pendidikan di lapangan yang sebanarnya. Hal lain adalah pendidik tidak dapat mengomunikasikan bahan pengajaran dengan baik, sehingga mudah dimengerti dan menbuat tertarik peserta pendidikan yang baik juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pendidikan di Indonesia. Sangat disayangkan juga sistem pendidikan kita berubah-ubah sehingga membingungkan pendidik dan peserta didik. Dalam beberapa tahun belakangan ini, kita menggunakan sistem pendidikan kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah proses pengajaran menjadi proses pendidikan aktif, hingga kurikulum baru lainnya. Ketika mengganti kurikulum, kita juga mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar harus diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah cost biaya pendidikan. Sehingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti kurikulum yang dianggap kuaran efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efisiensi akan tercipta jika keluaran yang diinginkan dapat dihasilkan secara optimal dengan hanya masukan yang relative tetap, atau jika masukan yang sekecil mungkin dapat menghasilkan keluaran yang optimal. Konsep efisiensi sendiri terdiri dari efisiensi teknologis dan efisiensi ekonomis. Efisiensi teknologis diterapkan dalam pencapaian kuantitas keluaran secara fisik sesuai dengan ukuran hasil yang sudah ditetapkan. Sementara efisiensi ekonomis tercipta jika ukuran nilai kepuasan atau harga sudah diterapkan terhadap efisiensi selalu dikaitkan dengan efektivitas. Efektivitas merupakan bagian dari konsep efisiensi karena tingkat efektivitas berkaitan erat dengan pencapaian tujuan relative terhadap harganya. Apabila dikaitkan dengan dunia pendidikan, maka suatu program pendidikan yang efisien cenderung ditandai dengan pola penyebaran dan pendayagunaansumber-sumber pendidikan yang sudah ditata secara efisien. Program pendidikan yang efisien adalah program yang mampu menciptakan keseimbangan antara penyediaan dan kebutuhan akan sumber-sumber pendidikan sehingga upaya pencapaian tujuan tidak mengalami Standardisasi Pendidikan Di IndonesiaJika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Tentunya setelah melewati proses untuk menentukan standar yang akan pendidikan terus berudah. Kompetensi yang dibutuhka oleh masyarakat terus-menertus berunah apalagi di dalam dunia terbuka yaitu di dalam dunia modern dalam ere globalisasi. Kompetendi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang dalam lembaga pendidikan haruslah memenuhi yang kita lihat sekarang ini, standar dan kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar dan kompetensi. Kualitas pendidikan diukur oleh standard an kompetensi di dalam berbagai versi, demikian pula sehingga dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan BSNP.Tinjauan terhadap standardisasi dan kompetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan akhirnya membawa kami dalam pengunkapan adanya bahaya yang tersembunyi yaitu kemungkinan adanya pendidikan yang terkekung oleh standar kompetensi saja sehngga kehilangan makna dan tujuan pendidikan didik Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaiman agar mencapai standar pendidikan saja, bukan bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat digunakan. Tidak perduli bagaimana cara agar memperoleh hasil atau lebih spesifiknya nilai yang diperoleh, yang terpentinga adalah memenuhi nilai di atas standar seperti di atas sangat disayangkan karena berarti pendidikan seperti kehilangan makna saja karena terlalu menuntun standar kompetensi. Hal itu jelas salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di itu, akan lebih baik jika kita mempertanyakan kembali apakah standar pendidikan di Indonesia sudah sesuai atau belum. Dalam kasus UAN yang hampir selalu menjadi kontrofesi misalnya. Kami menilai adanya sistem evaluasi seperti UAN sudah cukup baik, namun yang kami sayangkan adalah evaluasi pendidikan seperti itu yang menentukan lulus tidaknya peserta didik mengikuti pendidikan, hanya dilaksanakan sekali saja tanpa melihat proses yang dilalu peserta didik yang telah menenpuh proses pendidikan selama beberapa tahun. Selain hanya berlanhsug sekali, evaluasi seperti itu hanya mengevaluasi 3 bidang studi saja tanpa mengevaluasi bidang studi lain yang telah didikuti oleh peserta hal lain juga yang sebenarnya dapat kami bahas dalam pembahasan sandardisasi pengajaran di Indonesia. Juga permasalahan yang ada di dalamnya, yang tentu lebih banyak, dan membutuhkan penelitian yang lebih dalam lagiPenyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah hanya sebatas yang kami bahas di atas. Banyak hal yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan kita. Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan jika kita menggali lebih dalam akar permasalahannya. Dan semoga jika kita mengetehui akar permasalahannya, kita dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia sehingga jadi kebih baik beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di atas, berikut ini akan dipaparkan pula secara khusus beberapa masalah yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Rendahnya Kualitas Sarana FisikUntuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan Balitbang Depdiknas 2003 menyebutkan untuk satuan SD terdapat lembaga yang menampung siswa serta memiliki ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak atau 42,12% berkondisi baik, atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Kalau kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan persentase yang tidak Rendahnya Kualitas GuruKeadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sbb untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% negeri dan 28,94% swasta, untuk SMP 54,12% negeri dan 60,99% swasta, untuk SMA 65,29% negeri dan 64,73% swasta, serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% negeri dan 58,26% swasta.Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data Balitbang Depdiknas 1998 menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas 3,48% berpendidikan S3.Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan Rendahnya Kesejahteraan GuruRendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII Federasi Guru Independen Indonesia pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya Republika, 13 Juli, 2005.Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen PNS agak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen Pikiran Rakyat 9 Januari 2006.4. Rendahnya Prestasi SiswaDengan keadaan yang demikian itu rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study TIMSS 2003 2004, siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang hal prestasi, 15 September 2004 lalu United Nations for Development Programme UNDP juga telah mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Di dalam laporan tahunan ini Indonesia hanya menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. Apabila dibanding dengan negara-negara tetangga saja, posisi Indonesia berada jauh di skala internasional, menurut Laporan Bank Dunia Greaney,1992, studi IEA Internasional Association for the Evaluation of Educational Achievement di Asia Timur menunjukan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah. Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD 75,5 Hongkong, 74,0 Singapura, 65,1 Thailand, 52,6 Filipina, dan 51,7 Indonesia.Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan itu, hasil studi The Third International Mathematic and Science Study-Repeat-TIMSS-R, 1999 IEA, 1999 memperlihatkan bahwa, diantara 38 negara peserta, prestasi siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA, ke-34 untuk Matematika. Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas yang disurvai di asia pasifik ternyata 4 universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-61, ke-68, ke-73 dan Kurangnya Pemerataan Kesempatan PendidikanKesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni APM untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% 28,3 juta siswa. Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% 9,4 juta siswa. Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan KebutuhanHal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS 1996 yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia Mahalnya Biaya PendidikanPendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak TK hingga Perguruan Tinggi PT membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp — sampai Rp Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS Manajemen Berbasis Sekolah. MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang selalu berkedok, “sesuai keputusan Komite Sekolah”. Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan RUU BHP. Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu Pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara BHMN. Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sektor yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen Kompas, 10/5/2005.Dari APBN 2005 hanya 5,82% yang dialokasikan untuk pendidikan. Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25% belanja dalam APBN Rencana Pemerintah memprivatisasi pendidikan dilegitimasi melalui sejumlah peraturan, seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, RUU Badan Hukum Pendidikan, Rancangan Peraturan Pemerintah RPP tentang Pendidikan Dasar dan Menengah, dan RPP tentang Wajib Belajar. Penguatan pada privatisasi pendidikan itu, misalnya, terlihat dalam Pasal 53 1 UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Sisdiknas. Dalam pasal itu disebutkan, penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum halnya perusahaan, sekolah dibebaskan mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan. Koordinator LSM Education Network for Justice ENJ, Yanti Mukhtar Republika, 10/5/2005 menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan senada dituturkan pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurut dia, privatisasi pendidikan merupakan agenda Kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan RUU BHP, Pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan BHP yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga perguruan masyarakat tertentu, beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara BHMN itu menjadi momok. Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya berlaku di Indonesia. Di Jerman, Prancis, Belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk cuci tangan’.D. Solusi dari Permasalahan-permasalahan Pendidikan di IndonesiaUntuk mengatasi masalah-masalah di atas, secara garis besar ada dua solusi yang dapat diberikan yaituPertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme mazhab neoliberalisme, yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan solusi untuk masalah-masalah yang ada, khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan –seperti rendahnya sarana fisik, kesejahteraan guru, dan mahalnya biaya pendidikan– berarti menuntut juga perubahan sistem ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam. Maka sistem kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam yang menggariskan bahwa pemerintah-lah yang akan menanggung segala pembiayaan pendidikan solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya. Lihat Pendidikan Selengkapnya
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Dosen Pengampu Dr. Ira Alia Maerani, Nama Annisa Sofiatun Naza 30802100013Indonesia memiliki tingkat Pendidikan yang rendah. Pada tahun 2020, Indonesia menempati urutan ke-70 dari 93 negara yang telah disurvei didalam riset pendidikan terbaik dunia. Hal tersebut terjadi karena terdapat banyak faktor didalamnya, baik faktor internal maupun eksternal. Dalam sebuah hadits nabi telah bersabda " Menuntut ilmu diwajibkan atas setiap muslim dan muslimah"Hadits itu menjelaskan, bagi siapa saja umat islam wajib baginya untuk menuntut ilmu dimanapun dan kapanpun waktunya. Nabi Muhammad sangat peduli dengan ilmu, salah satunya beliau sering berdiskusi bersama para sahabat beliau di sekali faktor yang mempengaruhi rendahnya Pendidikan di Indonesia. Pertama, ekonomi penduduk Indonesia yang tidak mencukupi untuk menempuh bangku sekolah. Banyak sekali penduduk menengah kebawah yang tidak mampu menyekolahkan anaknya di bangku sekolah karena besarnya biaya yang harus banyaknya sarana prasarana yang tidak memenuhi standar kualitas pendidikan, terutama pada daerah yang tertinggal. Di daerah tertinggal Indonesia, banyak fasilitas pendidikan yang tidak memadai, seperti tenaga pendidik dan tempat untuk menempuh pendidikan. Ketiga, tidak adanya kesadaran dan motivasi belajar dari anak-anak. Banyak sekali anak-anak yang tidak peduli tentang pentingnya pendidikan, karena banyak dari mereka yang memiliki pola pikir bahwa " uang lebih penting daripada pendidikan ". Terlebih lagi pada perempuan yang ingin melanjutkan pendidikannya sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Hal itu masih menjadi hal tabu di kalangan penduduk desa. Karena mereka berpikir bahwa anak perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi, atau bahkan tidak usah sekolah sekalipun, karena nanti juga mereka akan kembali ke hal diatas adalah faktor-faktor dimana Indonesia menyandang peringkat rendah dalam hal pendidikan. Pendidikan ini adalah salah satu syarat untuk menjadi negara maju. Negara maju harus memiliki kualitas pendidikan yang tinggi. Apabila Indonesia masih memiliki sistem pendidikan yang rendah, Indonesia belum bisa memenuhi syarat untuk menjadi negara maju. 1 2 Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya